Kategori Blog

Tuesday, March 17, 2026

PANDUAN LENGKAP PENGISIAN DER UNTUK SPT BADAN: Cara Hitung, Contoh Kasus, dan Aturan Terkini

Dalam pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Badan, salah satu komponen yang sering menjadi perhatian pemeriksa pajak adalah perhitungan Debt to Equity Ratio (DER) atau rasio utang terhadap modal. Ketentuan ini penting karena menyangkut seberapa besar biaya pinjaman yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan.


Bagi wajib pajak badan, memahami cara pengisian DER dengan benar tidak hanya menghindarkan dari koreksi fiskal, tetapi juga menjaga struktur permodalan perusahaan tetap sehat. Artikel ini akan membahas secara komprehensif aturan DER, cara menghitung, contoh kasus, hingga format pelaporannya di SPT Badan.


📚 DASAR HUKUM DER UNTUK KEPERLUAN PAJAK


A. Regulasi Utama


Pengaturan mengenai Debt to Equity Ratio (DER) untuk keperluan perpajakan didasarkan pada beberapa aturan berikut:


Aturan Pokok Pengaturan

Pasal 18 ayat (1) UU PPh (sebagaimana diubah UU HPP) Menteri Keuangan berwenang menetapkan besarnya perbandingan antara utang dan modal perusahaan untuk keperluan penghitungan PPh 

PMK Nomor 169/PMK.010/2015 Penentuan besarnya perbandingan antara utang dan modal perusahaan, menetapkan batas maksimal DER 4:1 (empat banding satu) 

PER-25/PJ/2017 Pelaksanaan penentuan besarnya DER dan tata cara pelaporan utang swasta luar negeri 

PP Nomor 55 Tahun 2022 Penyesuaian pengaturan di bidang PPh, termasuk pengadopsian metode ESR (Earnings Stripping Rules) sebagai alternatif DER 


B. Perkembangan Terkini: Dari DER ke ESR


Penting diketahui bahwa pemerintah melalui PP Nomor 55 Tahun 2022 telah mengadopsi metode baru yang direkomendasikan OECD, yaitu Earnings Stripping Rules (ESR) atau fixed ratio rule . Metode ini membandingkan beban biaya utang dengan EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization).


Namun demikian, hingga saat ini aturan turunan berupa Peraturan Menteri Keuangan (PMK) untuk ESR belum diterbitkan. Dengan demikian, ketentuan DER 4:1 dalam PMK 169/2015 masih berlaku sebagai acuan utama penghitungan biaya pinjaman yang dapat dikurangkan .


🧮 MEMAHAMI KONSEP DER DALAM PAJAK


A. Definisi DER untuk Tujuan Pajak


Debt to Equity Ratio (DER) adalah perbandingan antara jumlah utang dan modal perusahaan yang digunakan untuk keperluan penghitungan Pajak Penghasilan . Berbeda dengan DER dalam analisis keuangan biasa, DER untuk tujuan pajak memiliki definisi dan komponen yang diatur secara spesifik.


B. Rumus Dasar DER


DER = Total Utang : Modal 


Pemerintah menetapkan batas maksimal DER sebesar 4:1 . Artinya, jumlah utang perusahaan paling banyak tidak boleh melebihi empat kali lipat jumlah modal yang dimiliki.


C. Komponen yang Diperhitungkan dalam DER


1. Utang (Debt)


Yang dimaksud dengan utang adalah saldo rata-rata utang pada satu tahun pajak, yang dihitung berdasarkan :


· Rata-rata saldo utang tiap akhir bulan pada tahun pajak yang bersangkutan; atau

· Rata-rata saldo utang tiap akhir bulan pada bagian tahun pajak


Utang yang diperhitungkan meliputi :


· Saldo utang jangka panjang

· Saldo utang jangka pendek

· Utang dagang yang dibebani bunga

· Utang Swasta Luar Negeri (wajib dilaporkan dalam lampiran SPT Tahunan) 


Yang tidak termasuk utang :


· Utang yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya

· Utang yang digunakan untuk mendapatkan penghasilan yang bukan merupakan objek pajak atau yang dikenai pajak final


2. Modal (Equity)


Modal adalah saldo rata-rata modal pada satu tahun pajak, yang dihitung berdasarkan :


· Rata-rata saldo modal tiap akhir bulan pada tahun pajak yang bersangkutan; atau

· Rata-rata saldo modal tiap akhir bulan pada bagian tahun pajak


Komponen modal meliputi :


· Ekuitas sesuai Standar Akuntansi Keuangan (SAK), terdiri dari:

  · Modal disetor (modal saham dan agio/disagio)

  · Laba ditahan

  · Modal penilaian kembali

  · Sumbangan

  · Modal lain-lain

· Pinjaman tanpa bunga dari pihak yang memiliki hubungan istimewa 


🏢 WAJIB PAJAK YANG TERKENA KETENTUAN DER


A. Wajib Pajak yang Wajib Menerapkan DER


Ketentuan DER 4:1 berlaku bagi :


· Wajib Pajak Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia

· Modal perusahaan terbagi atas saham-saham


B. Wajib Pajak yang Dikecualikan


Terdapat beberapa jenis wajib pajak yang dikecualikan dari ketentuan DER :


No Jenis Wajib Pajak

1 Bank

2 Lembaga pembiayaan

3 Asuransi dan reasuransi

4 Usaha pertambangan (migas, pertambangan umum) yang terikat kontrak bagi hasil/karya

5 Wajib Pajak yang seluruh penghasilannya dikenai PPh final

6 Wajib Pajak yang menjalankan usaha di bidang infrastruktur


💰 BIAYA PINJAMAN YANG TERDAMPAK DER


Jika DER melebihi 4:1, maka biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan sebagai pengurang penghasilan bruto dibatasi. Biaya pinjaman yang dimaksud meliputi :


1. Bunga pinjaman

2. Diskonto dan premium yang terkait dengan pinjaman

3. Biaya tambahan yang terkait dengan perolehan pinjaman (arrangement of borrowings)

4. Beban keuangan dalam sewa pembiayaan

5. Biaya imbalan karena jaminan pengembalian utang

6. Selisih kurs yang berasal dari pinjaman dalam mata uang asing, sepanjang selisih kurs tersebut sebagai penyesuaian terhadap biaya bunga


📊 CONTOH KASUS: PT MAJU BERSAMA


Mari kita praktikkan penghitungan DER dengan contoh kasus berikut.


A. Profil Perusahaan


· PT Maju Bersama: Perusahaan manufaktur, bukan bank/lembaga keuangan

· Tahun Pajak: 2025

· Status: Wajib menerapkan ketentuan DER


B. Data Saldo Utang dan Modal per Akhir Bulan


Data Utang (dalam jutaan rupiah) :


Bulan Utang Jangka Pendek Utang Jangka Panjang Total Utang

Januari 80.000 120.000 200.000

Februari 85.000 120.000 205.000

Maret 90.000 115.000 205.000

April 95.000 115.000 210.000

Mei 100.000 110.000 210.000

Juni 105.000 110.000 215.000

Juli 110.000 105.000 215.000

Agustus 115.000 105.000 220.000

September 120.000 100.000 220.000

Oktober 125.000 100.000 225.000

November 130.000 95.000 225.000

Desember 135.000 95.000 230.000


Data Modal (Ekuitas) per Akhir Bulan (dalam jutaan rupiah) :


Bulan Modal Disetor Laba Ditahan Total Modal

Januari 50.000 15.000 65.000

Februari 50.000 16.000 66.000

Maret 50.000 17.000 67.000

April 50.000 18.000 68.000

Mei 50.000 19.000 69.000

Juni 50.000 20.000 70.000

Juli 50.000 21.000 71.000

Agustus 50.000 22.000 72.000

September 50.000 23.000 73.000

Oktober 50.000 24.000 74.000

November 50.000 25.000 75.000

Desember 50.000 26.000 76.000


C. Langkah 1: Hitung Rata-rata Saldo Utang


Rata-rata saldo utang dihitung dengan menjumlahkan saldo akhir setiap bulan, kemudian dibagi 12 .


· Jumlah saldo utang selama 12 bulan: 

  = 200.000 + 205.000 + 205.000 + 210.000 + 210.000 + 215.000 + 215.000 + 220.000 + 220.000 + 225.000 + 225.000 + 230.000

  = 2.580.000 juta

· Rata-rata utang = 2.580.000 ÷ 12 = 215.000 juta


D. Langkah 2: Hitung Rata-rata Saldo Modal


· Jumlah saldo modal selama 12 bulan:

  = 65.000 + 66.000 + 67.000 + 68.000 + 69.000 + 70.000 + 71.000 + 72.000 + 73.000 + 74.000 + 75.000 + 76.000

  = 846.000 juta

· Rata-rata modal = 846.000 ÷ 12 = 70.500 juta


E. Langkah 3: Hitung DER Aktual


DER = Rata-rata Utang : Rata-rata Modal

DER = 215.000 : 70.500

DER = 3,05 : 1


F. Langkah 4: Bandingkan dengan Batas Maksimal


· Batas maksimal DER: 4 : 1

· DER aktual PT Maju Bersama: 3,05 : 1


Kesimpulan: DER aktual (3,05:1) lebih kecil dari batas maksimal (4:1). Dengan demikian, seluruh biaya pinjaman tahun 2025 dapat dikurangkan dari penghasilan bruto .


⚠️ KONSEKUENSI JIKA DER MELEBIHI BATAS


A. Skenario Jika DER > 4:1


Misalkan DER aktual PT Maju Bersama adalah 5:1 (utang Rp500 miliar, modal Rp100 miliar). Maka :


1. Biaya pinjaman yang dapat diperhitungkan sebagai pengurang penghasilan bruto hanya sebesar biaya pinjaman yang sesuai dengan rasio DER 4:1.

2. Rumus penyesuaian:


Biaya Pinjaman yang Dapat Dikurangkan = Biaya Pinjaman × (Batas DER ÷ DER Aktual)


Contoh: Jika total biaya pinjaman Rp50 miliar, maka:


· Biaya yang dapat dikurangkan = Rp50 miliar × (4 ÷ 5) = Rp40 miliar

· Sisanya Rp10 miliar tidak dapat dikurangkan (koreksi fiskal positif)


B. Kasus Ekuitas Nol atau Negatif


Pasal penting dalam PMK 169/2015: Jika Wajib Pajak memiliki saldo ekuitas nol atau kurang dari nol (minus), maka seluruh biaya pinjaman tidak dapat diperhitungkan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak .


C. Risiko Lainnya


1. Koreksi saat pemeriksaan: Tanpa dokumentasi yang rapi, risiko koreksi meningkat 

2. Isu transfer pricing: Untuk pinjaman afiliasi, selain DER harus diuji juga kewajaran suku bunga 

3. Sanksi administrasi: Jika tidak melaporkan utang swasta luar negeri, biaya pinjaman tidak dapat dikurangkan 


📝 PELAPORAN DER DALAM SPT TAHUNAN BADAN


A. Format Laporan Perhitungan DER


Berdasarkan PER-25/PJ/2017, wajib pajak badan yang memiliki utang dan mengurangkan biaya pinjaman wajib menyampaikan laporan perhitungan DER dalam lampiran SPT Tahunan .


Jika tidak melampirkan laporan DER, SPT dianggap tidak lengkap sesuai ketentuan perpajakan .


B. Informasi yang Harus Disertakan


Dalam laporan perhitungan DER, minimal harus mencakup :


1. Data Utang:

   · Rincian utang per akhir bulan

   · Klasifikasi utang (jangka pendek/panjang, afiliasi/non-afiliasi)

   · Utang Swasta Luar Negeri (format khusus)

2. Data Modal:

   · Rincian modal per akhir bulan

   · Komponen ekuitas sesuai SAK

3. Perhitungan Rata-rata:

   · Rata-rata saldo utang tahunan

   · Rata-rata saldo modal tahunan

4. Hasil DER:

   · DER aktual

   · Kesimpulan (melebihi/tidak melebihi batas)

5. Perhitungan Biaya Pinjaman:

   · Total biaya pinjaman

   · Penyesuaian jika DER > 4:1

   · Biaya pinjaman yang dapat dikurangkan


C. Checklist Kepatuhan Sebelum Finalisasi SPT


Gunakan checklist ini sebelum melaporkan SPT Badan :


✅ Hitung DER berbasis data fiskal (rata-rata saldo bulanan), bukan hanya rasio manajemen


✅ Pisahkan utang berbunga vs non-berbunga secara jelas


✅ Pastikan dokumen pinjaman lengkap (agreement, addendum, schedule pembayaran)


✅ Uji biaya pinjaman yang berpotensi terdampak batas DER


✅ Siapkan kertas kerja rekonsiliasi fiskal yang bisa diaudit


✅ Untuk utang afiliasi: sinkronkan dengan dokumentasi transfer pricing


✅ Laporkan Utang Swasta Luar Negeri jika ada 


💡 TIPS PRAKTIS MENGELOLA DER


1. Monitoring Bulanan, Bukan Tahunan


DER dan biaya pinjaman sebaiknya dipantau per bulan atau kuartal agar tindakan korektif bisa lebih awal .


2. Satu Sumber Data Pinjaman


Hindari data tersebar di beberapa file. Satukan principal, bunga, jatuh tempo, dan status afiliasi dalam satu master sheet .


3. Simulasi Sebelum Tutup Buku


Lakukan simulasi efek fiskal DER sebelum penutupan tahun agar manajemen bisa menilai opsi pendanaan (misalnya injeksi modal vs tambahan utang) .


4. Perhatikan Transaksi Afiliasi


Jika perusahaan mempunyai utang kepada pihak yang memiliki hubungan istimewa, biaya pinjaman juga harus memenuhi prinsip kewajaran dan kelaziman usaha sesuai Pasal 18 ayat (3) UU PPh .


📌 KESIMPULAN


Perhitungan Debt to Equity Ratio (DER) untuk keperluan pajak bukan sekadar formalitas administratif, melainkan instrumen penting untuk memastikan kewajaran struktur pendanaan perusahaan. Berdasarkan PMK 169/PMK.010/2015, berikut ringkasan yang perlu dipahami:


✅ Batas Maksimal DER: 4:1 (empat banding satu) 


✅ Cara Menghitung: Rata-rata saldo utang akhir bulan : Rata-rata saldo modal akhir bulan 


✅ Komponen Utang: Jangka pendek, jangka panjang, utang dagang berbunga 


✅ Komponen Modal: Ekuitas sesuai SAK + pinjaman tanpa bunga dari afiliasi 


✅ Jika DER ≤ 4:1: Seluruh biaya pinjaman dapat dikurangkan 


✅ Jika DER > 4:1: Biaya pinjaman yang dapat dikurangkan terbatas sesuai proporsi DER 4:1 


✅ Ekuitas Nol/Minus: Seluruh biaya pinjaman tidak dapat dikurangkan 


✅ Wajib Lapor: Sertakan laporan perhitungan DER dalam lampiran SPT Tahunan 


Dengan memahami dan menerapkan ketentuan DER secara benar, perusahaan tidak hanya terhindar dari koreksi fiskal, tetapi juga menjaga struktur permodalan yang sehat dan berkelanjutan. Di era transparansi perpajakan saat ini, kepatuhan terhadap aturan DER adalah investasi jangka panjang yang paling aman.


---


Disclaimer: Informasi dalam blog ini disusun berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku (PMK 169/2015, PER-25/PJ/2017, PP 55/2022) dan sumber-sumber terpercaya hingga Maret 2026. Untuk penerapan pada kasus spesifik perusahaan Anda, sangat disarankan berkonsultasi dengan konsultan pajak profesional.

No comments:

Post a Comment

PANDUAN LENGKAP PERHITUNGAN PPh 21 KARYAWAN TAHUN 2026: Aturan TER, Tarif Progresif, dan Contoh Kasus

Sistem pemotongan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 terus menjadi perhatian utama baik bagi pemberi kerja maupun karyawan. Sejak penerapan sk...